Dulu Tempat Maksiat, Kini Kalijodo Tempat Rekreasi



Jakarta: Kawasan Kalijodo di Jalan Kepanduan II berubah total. Citra seram dan menjijikan tak lagi melekat pada kawasan yang pernah jadi lokasi esek-esek melegenda itu.


Warga sekarang bangga pada kondisi Kalijodo. Lokasi itu telah disulap jadi Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA).

Jika sebelumnya para orang tua melarang anaknya bermain di Kalijodo, kini sebaliknya. Setidaknya itu yang dirasakan Enang, 57, salah satu pengunjung RPTRA Kalijodo.

"Saya malah sering ajak anak ke sini sekarang. Dulu kan mana boleh kita nyuruh anak main ke sini," kata Enang kepada Metrotvnews.com, di RPTRA Kalijodo, Jakarta Barat, Jumat 24 Februari 2017.

Sementara, menurut Gatot, RPTRA Kalijodo tampak hampir sempurna. Apalagi jika pepohonan sudah banyak tumbuh di areal RPTRA.

"Kalau sudah rindang ini lebih enak lagi. Sekarang kan paling hanya panas saja kalau siang atau sore," ucap Gatot.

Enang dan Gatot mengaku salut dengan perubahan wajah Kalijodo. Menurut dia, tidak mudah mengubah budaya maupun citra di suatu tempat yang kadung melekat.

Kebanggaan juga dirasakan remaja bernama Dodi. Pria 24 tahun itu mengaku senang terhadap wajah Kalijodo saat ini. Disediakannya skate park atau area tempat bermain skateboard, membuat hobi warga Jelambar itu tersalurkan.

"Saya enggak pusing lagi cari tempat main skateboard, hampir setiap sore saya pasti ke sini," ucap Dodi.

Kemal, bocah asal Pluit, juga tampak riang bermain di arena seluncur yang ada di RPTRA Kalijodo. Dia tampak berbaur dengan sebayanya bermain di wahana anak.

"Diajak mama, senang banyak mainan," kata bocah yang belum genap berusia delapan tahun itu.

Pantauan Metrotvnews.com, semakin sore pengunjung RTH dan RPTRA Kalijodo semakin ramai. Warga dari kalangan tua, remaja, hingga anak-anak memadati kawasan seluas empat hektare itu.

Mereka menghabiskan sore buat sekadar duduk-duduk atau menemani sang anak bermain. Yang remaja, tampak memanfaatkan arena bermain sepeda maupun skate park.

Tidak sedikit para remaja juga berjalan-jalan dan mengabadikan gambar sendiri di lokasi RTH maupun RPTRA Kalijodo.

Bicara soal fasilitas, RTH dan RPTRA Kalijodo terbilang lengkap. Beberapa yang sudah jadi ialah lintasan untuk berlari, lintasan sepeda, skate park, amphitheater, musala, toilet, outdoor fitness, dan ruang hijau. Sedangkan di RPTRA Kalijodo, ada ruang laktasi, perpustakaan, toilet, dan arena bermain anak.

Satu dinding besar jadi lokasi favorit berfoto pengunjung. Dinding dengan tinggi sekitar delapan meter dan panjang 24 meter itu dihiasi coretan mural buah karya para 'bomber'.

Ada juga bus pariwisata bertingkat yang disediakan gratis menuju RPTRA dan RTH Kalijodo. Sayangnya, frekuensi bus yang masuk dan keluar masih terbatas.

"Saya tadi coba dari Balai Kota ke sini naik bus tingkat. Gratis loh, naik pukul 11.30 WIB," kata Elise.

Salah satu pengunjung, Chandra, menyarankan pengelola menyediakan tempat makan yang lebih nyaman dan tertata. Selain, tentu saja harganya terjangkau.

"Sekarang kan baru ada pedagang kaki lima saja. Itu juga kita mau makan susah tempatnya, cuma bangku," ucap Chandra.

Ke depan, Gubernur DKI Basuki 'Ahok' Tjahaja Purnama berencana membuat masjid di seberang Kalijodo. Batu pertama pembangunan Masjid yang rencananya bernama Al Mubarokah itu baru saja diletakkan Ahok. Pembangunan masjid yang menghabiskan dana Rp6 miliar itu bakal rampung empat bulan.

Napak Tilas Kalijodo

Pada 1950-an, Kalijodo adalah areal kali yang jadi tempat nongkrong muda-mudi Jakarta. Banyak dari mereka yang kerap nongkrong mendapat jodoh. Tak heran dinamai Kalijodo.

Seiring waktu, banyak pendatang singgah dan menetap. Sampai akhirnya kawasan ini berubah jadi tempat mesum. Pada 1970, tempat ini secara resmi dijadikan lokalisasi prostitusi. Lokasi itu pun sohor jadi tempat pelancong mencari cinta semalam.

Pada 29 Februari 2016, Pemprov DKI memutuskan menggusur kawasan itu. Faktornya bukan cuma prostitusi, tapi lokasi itu juga ada di kawasan hijau dalam peta Pemprov DKI.

Berkaitan langsung atau tidak, wacana penggusuran mencuat setelah insiden tabrakan Fortuner maut pada 8 Februari 2016. Kala itu Fortuner dengan nomor B 201 RFD menabrak sepasang pengendara motor, Zulkahfi Rahman dan istrinya Nuraini, di Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat.

Pengendara motor tewas seketika. Begitu pula dua penumpang Fortuner maut. Sang pengemudi, Riki Agung Prasetyo, jadi tersangka.

Usut punya usut, Riki diduga menyetir dalam keadaan mabuk usai pulang menghabiskan malam di Kalijodo. Lepas insiden itulah, Ahok bulat mengubah wajah Kalijodo.

Proses penggusuran bukan tanpa kendala. Masih teringat betul penolakan dan sumpah serapah warga terhadap rencana pembongkaran. Saat hari H penggusuran, ribuan aparat gabungan Polri, TNI, dan Satpol PP diterjunkan buat menghadapi resistensi pembongkaran di Kalijodo. Sampai akhirnya, kawasan prostitusi itu pun rata dengan tanah tanpa ada perlawanan berarti.

Tepat 22 Februari 2017, Ahok meresmikan Kalijodo sebagai RTH dan RPTRA. Duit pembangunan RTH dan RPTRA itu berasal dari dana tanggung jawab sosial (CSR) PT Sinarmas Land. [ii1]

0 Response to "Dulu Tempat Maksiat, Kini Kalijodo Tempat Rekreasi"

Posting Komentar