Panglima TNI dan Islam Indonesia



Beberapa waktu lalu, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menjadi pembicara pengajian rutin bulanan Muhammadiyah, bersama Salim Said dan Hajriyanto Y Thohari. Hadir Ketua Umum Muhammadiyah Haedar Nashir dan mantan ketua umum Din Syamsuddin.

Jamaah memadati seluruh bagian Aula KH Ahmad Dahlan. Karena banyaknya jamaah, sampai-sampai digelar nonton bareng (nobar) di Masjid At-Taqwa, kantor Muhammadiyah. Di beberapa daerah, pimpinan daerah dan pimpinan cabang juga menggelar nobar.

Antusiasme jamaah ini karena mereka ingin melihat langsung ceramah Gatot terkait relasi Islam dan militer dalam konteks politik kebangsaan. Dalam pandangan warga Muhammadiyah dan diyakini juga kebanyakan umat Islam lainnya, Gatot mempunyai langgam kememimpinan berbeda dan bahkan kontras dengan mantan-mantan panglima TNI sebelumnya, terlebih sejak pasca-Orde Baru.

Ini terlihat dalam mendudukkan relasi Islam, militer, dan negara, yang terbaca dari pernyataannya dalam beberapa bulan terakhir. Pernyataan Panglima dianggap proporsional meski kalangan Islamofobia menilainya sebagai bentuk ‘keberpihakan’ kepada umat Islam.

Terdapat beberapa sikap Gatot yang dinilai “berpihak” pada Islam. Pertama, sikapnya jelang Pilkada Jakarta, termasuk pernyataan-pernyataannya seputar Aksi Damai 411 maupun 212 yang orang menganggapnya pro Islam.

Kedua, perintah kepada jajaran TNI untuk menggelar nobar Film G30S/PKI. Perintah ini mendapat dukungan umat Islam, terlihat dari antusiasmenya dalam menggelar nobar Film G30S/PKI di banyak daerah.

Perintah ini bahkan berhasil “memaksa” Presiden Joko Widodo ikut nobar di Markas Korem Suryakencana, Bogor. Ketiga, seakan ingin mempertegas sikapnya, dalam peringatan HUT TNI ke-72, Gatot menghadirkan KH Sholeh Qosim, veteran dan anggota Laskar Hizbullah.

Dengan hadirnya KH Sholeh, seakan Gatot ingin mengatakan, KH Sholeh adalah sedikit saksi sejarah yang masih hidup yang bisa menjelaskan relasi kedekatan umat Islam dengan negara, khususnya militer pada periode awal kemerdekaan Indonesia. Bukan hanya saat menyampaikan ceramahnya di Muhammadiyah, dalam berbagai kesempatan, Gatot banyak menguraikan sumbangsih umat Islam dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Termasuk menyampaikan soal sumbangsih umat Islam dalam pembentukan Angkatan Perang Indonesia. Gatot mengungkapkan, sumbangsih umat Islam luar biasa melalui laskar seperti Hizbullah dan Sabilillah, merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Ulama di Jawa Timur membuat Resolusi Jihad yang berhasil membakar semangat arek-arek Surabaya dalam pertempuran 10 November 1945 dan daerah lainnya. Jenderal Sudirman juga berasal dari santri, kader Pandu Hizbul Wathan dan guru sekolah Muhammadiyah. Dalam berbagai kesempatan, fakta-fakta sejarah ini secara lantang disampaikan oleh Gatot.

Sikap dan pernyataan-pernyataan Gatot sebenarnya tak ada yang istimewa, biasa-biasa saja. Gatot hanya menyampaikan ulang fakta sejarah terkait relasi dan sumbangsih umat Islam, terutama dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Juga terkait pembentukan tentara nasional. Fakta sejarah inilah yang selama ini ditutup-tutupi secara rapat kalangan Islamofobia yang benci, takut, dan alergi terhadap Islam, yang tersebar di mana-mana, termasuk di kalangan militer. Sikap Gatot istimewa karena “berani” menyampaikan fakta sejarah apa adanya.

Sejak Alamsyah Ratu Prawiranegara yang kerap menegaskan, Pancasila adalah pengorbanan dan hadiah terbesar umat Islam untuk Indonesia, rasanya baru kali ini ada “jenderal penuh” yang mempunyai keberanian “kampanye” menyatakan hal serupa. Selain Alamsyah dan Gatot, sejak Orde Baru sampai saat ini tak ada satu pun pejabat militer yang menyandang jabatan strategis “berani” menyampaikan fakta sejarah terkait peran politik umat Islam. Kebanyakan jenderal tidak atau setidaknya kurang peduli pada Islam.

Sebaliknya, secara sistematis, justru terkadang terlibat dalam upaya pengaburan sejarah peran politik Islam dan memusuhi Islam. Gatot tentu menyadari, impact dari Pilkada Jakarta beberapa waktu lalu, di tengah masyarakat masih terjadi polarisasi yang tajam.

Menyampaikan fakta sejarah terkait peran politik umat Islam dipastikan akan mendapat cibiran dan bahkan celaan dari mereka yang selama ini berpikir ahistoris, secara sistematis berusaha mendistorsi peran politik umat Islam dan Islamofobia. Namun dengan berani dan mungkin juga didorong niatan untuk menyampaikan kebenaran, Gatot tak peduli dengan cibiran dan celaan atas sikapnya, termasuk tuduhan tengah bermanuver politik menjelang Pilpres 2019.

Simpati dan antusiasme umat Islam terhadap Gatot perlu didudukkan secara proporsional dalam konteks Islam Indonesia. Dan Islam Indonesia sejak dulu sampai sekarang nyaris tak mengalami perubahan watak. Islam Indonesia adalah Islam yang ramah dan sangat toleran.

Islam yang dalam pilihan politiknya sangat moderat. Jauh dari watak yang sering digambarkan kalangan Islamofobia sebagai Muslim intoleran, antikebhinnekaan, dan mau menghadirkan negara Islam.

Selagi tidak ada upaya sistematis dan demonstratif yang dipahami umat Islam sebagai upaya membenci dan melecehkan Islam, maka Islam Indonesia adalah gambaran umat Islam yang misalnya dari sisi pilihan politiknya sangat moderat dan cair.

Sekadar bukti, sejak Pemilu 1999, partai pemenang pemilu selalu berasal dari partai nasionalis, baik nasionalis sekular seperti PDI-P, maupun nasionalis religius seperti Partai Golkar dan Partai Demokrat. Banyak juga anggota legislatif yang non-Muslim justru terpilih di daerah basis Muslim. Begitu pun dalam pemilihan presiden, umat Islam bisa akrab, bersahabat, dan memilih sosok Megawati Soekarno Putri, Susilo Bambang Yudhoyono, Joko Widodo, termasuk Prabowo Subianto.

Dalam pendekatan Clifford Geertz, keempatnya rasanya sulit dikategorikan sebagai santri. Fakta ini menegaskan, umat Islam Indonesia sangat moderat dan cair. Selain memilih partai Islam, umat Islam pun tidak alergi memilih partai di luar partai Islam. Begitu pun dalam hal pilihan calon presiden.

Memahami Islam Indonesia pada ranah politik itu sederhana. Selagi tidak menyinggung dan melecehkan akidah umat Islam, maka Islam Indonesia bisa bersahabat dengan siapapun. Namun kalau akidah umat Islam sudah diganggu, maka siapapun akan dilawannya.

Kekalahan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pada Pilkada Jakarta 2017 menjadi bukti nyata. Ahok dan terlebih pendukungnya dinilai telah melecehkan akidah umat Islam. Dan ketika umat Islam sudah tersinggung dan dilecehkan, maka seberapa banyak kekuatan modal ekonomi tak akan sanggup menaklukan dan mengalahkan umat Islam. [ii1]

Sumber: republika

0 Response to "Panglima TNI dan Islam Indonesia"

Posting Komentar